January 8, 2007

Don't Think ---=Look=---

DON'T THINK -- LOOK
Rasyid Sunarman - halida@tgl.mega.net.id
Date: Wed, 29 Sep 1999
Assalamu'alaikum wr wb
Sudah beberapa kali dimunculkan di milis ini, pikiran manusia itu dapat diumpamakan CPU pada komputer. Siapa berani membantah bahwa CPU merupakan komponen terpenting? CPU menerima input dari keyboard, mouse, modem, scanner dll, dan setelah diproses, hasilnya dapat dilihat di layar, di-print, disimpan di harddisk, dikomunikasikan dengan komputer lain, dll. Tolong diperhatikan: kalau suatu saat CPU itu sibuk memproses sesuatu input dari scanner, misalnya, ia tidak bereaksi dengan baik jika diberi input melalui keyboard datau mouse.
Begitu pula pikiran manusia. Pikiran menangkap isyarat yang diterimanya melalui panca indera, memprosesnya menjadi tindakan dan menyimpan informasi di dalam memori. Berbeda dengan CPU yang selalu khusyu', pikiran manusia cenderung kacau balau. Banyak sekali jenis isyarat yang masuk pada saat yang bersamaan [termasuk isyarat yang tidak melalui panca indera], tetapi pikiran tidak memiliki sistem yang baik dalam pengendalian arus isyarat yang masuk.
Dalam tasawuf, kita dituntut untuk melatih diri mengendalikan pikiran sehingga menjadi jelas input dari mana yang hendak diproses. Sasaran yang hendak dicapai ialah agar pikiran mampu menangkap isyarat halus yang sering disebut dengan 'cahaya Allah', 'bimbingan Allah', 'getaran Allah' atau istilah lain, yang pada hakikatnya merupakan energi pendorong agar manusia memperoleh keselamatan dan kesejahteraan dunia akhirat. Sayang, sekali, isyarat ini sangat halus dan sangat sulit ditangkap. Kita hanya mampu menangkapnya bila pikiran dibebaskan dari aktivitas aktif 'berpikir' dan diubah menjadi pasif 'menonton'.

Dalam hidup ini kita sudah terbiasa mengagungkan pikiran kita, sehingga boleh dikatakan bahwa kita ini 'menyembah pikiran kita', bukan menyembah Allah. Dalam memahami ayat-ayat Al Qur'an dan Hadits, kita cenderung untuk menggunakan logika dan daya pikir, dan pemahaman yang diperoleh dengan cara itu kita sembah sebagai kebenaran hakiki. Meskipun pemahaman rasional semacam itu tidak sepenuhnya salah, tetapi belum tentu merupakan kebenaran hakiki. Prof. Quraish Shihab pernah berkata: "Kalau membaca Al Qur'an, biarkan Al Qur'an itu sendiri menjelaskannya kepadamu." Dalam kalimat itu terkandung pengertian bahwa kita diminta untuk merendah, mengakui keterbatasan pikiran kita yang tidak lebih dari sekedar alat pemroses data [bukan sumber data], dan menyingkirkan semua bangunan/konsepsi yang ada di dalam pikiran karena hanya akan menjadi penghalang -- agar energi yang terpancar sari ayat-ayat AQ itu dapat menembus ke dalam otak melalui hati. Inilah yang dimaksud dengan 'Jangan berpikir'. Sudah pasti, cara ini bukan cara yang rasional.
"Jangan berpikir' itu bukanlah anjuran untuk dilakukan 24 jam sehari, tetapi sekurang-kurangnya kita diharuskan melakukannya 5 kali dalam sehari. "Dirikan shalat untuk mengingatKu," begitu kira-kira bunyi Al Qur'an. Namun anjuran untuk mengingat Allah tidak hanya terbatas pada shalat; silakan dibaca berapa kali anjuran itu muncul di dalam Al Qur'an. Bahkan ada perkataan "...jangan sekali-sekali lalai dalam mengingatKu." Tentu saja, bagi orang yang sudah mengenal Allah, 'mengingat' bukan sekedar mengingat menurut pemahaman kita, tetapi disertai dengan perbuatan nyata: berhenti berpikir dan menangkap isyarat/cahaya/bimbingan dari Allah.
Tasawuf yang utuh bukanlah melarang orang untuk berpikir, melainkan menganjurkan agar orang menggunakan pikirannya dengan arif sesuai dengan keterbatasan dan kelebihannya. Konsep 'insan kamil' atau 'manusia sempurna', digambarkan sebagai manusia yang bersih jiwanya, berpihak kepada kemanuiaan, mampu menangkap isyarat Allah, dan mampu mengaktualisasikannya ke dalam tindakan melalui kecerdasan pikirannya.
Gambaran kaum sufi sebagai 'santri theklek' bukanlah sesuatu yang representatif, karena [kebanyakan] mereka tidak dibekali intelektualitas yang tinggi atau pendidikan akademik yang memadai. Tanpa mengingkari bahwa mereka pun bermanfaat bagi masyarakat, tentu gambaran semacam itu jauh dari tujuan milis ini. Saya sangat mengharapkan, anggota-anggota milis kita [yang saya yakin tak seorangpun ber-IQ di bawah 100], mampu menggabungkan rasionalitas dan spiritualitas hingga menjadi insan-insan yang kamil. Kecerdasan yang tinggi, bila dilindungi dengan cahaya Allah, niscaya menghasilkan karya-karya nyata yang bermanfaat positif bagi umat manusia.
Wassalamu'alaikum wr wb
Ijin pemuatan di situs Tasawuf telah diberikan via e-mail.

No comments: